Empat Perempuan Lansia Tanpa Suami Bertahan Hidup dari Memulung, Tinggal di Hunian Tak Layak di Jantung Kota Sampang
Sampang — LIPUTANNUSANTARA.ORG
Potret kemiskinan ekstrem masih nyata di tengah Kota Sampang. Empat perempuan lanjut usia tanpa suami di Jalan Rajawali, Kelurahan Karangdalam (Kota), Kecamatan Sampang, Kabupaten Sampang, Madura, harus bertahan hidup dalam keterbatasan yang memilukan.
Setiap hari, mereka mengais rezeki dengan memulung demi sekadar bisa makan.
Salah satunya adalah Buk Wakiah (41). Ia hidup menumpang bersama tiga keluarga lain yang senasib—sama-sama tanpa pendamping hidup dan tanpa penghasilan tetap. Hunian yang mereka tempati jauh dari kata layak. Untuk beristirahat, Buk Wakiah bahkan tidur berdampingan dengan barang-barang bekas hasil memulung.
“Kami mendapat informasi dari teman-teman bahwa ada empat keluarga ibu-ibu tidak mampu dengan kondisi tempat tinggal yang sangat memprihatinkan.
Bahkan Buk Wakiah ini kalau tidur bersama barang bekas yang dikumpulkan setiap hari. Alas tidurnya hanya bambu atau papan seadanya, bukan ranjang seperti pada umumnya,” ungkap Cak Jum, yang akrab disapa Sahabat Rakyat, Kamis (05/02/2026).
Cak Jum yang juga menjabat Ketua Aliansi Wartawan Sampang (AWAS) menambahkan, berdasarkan informasi yang dihimpun, Buk Wakiah dan keluarganya belum pernah menerima bantuan sosial dari pemerintah sebagaimana warga lain pada umumnya.
“Kami berharap pemerintah, khususnya pemerintah setempat seperti lurah, bisa turun langsung untuk mengecek keberadaan empat keluarga ini. Harus ada pendataan yang jelas agar mereka bisa mendapatkan bantuan ekonomi dari program pemerintah yang memang diperuntukkan bagi warga tidak mampu,” tegasnya.
Tak hanya menyuarakan desakan kepada pemerintah, Cak Jum juga mengajak masyarakat luas untuk menumbuhkan empati dan kepedulian sosial.
“Mari berbagi saat kita punya rezeki. Jangan menunggu kaya untuk berbagi. Sedikit pun tak masalah, yang penting ikhlas dan tepat sasaran,” ajaknya.
Sementara itu, dengan mata berkaca-kaca, Buk Wakiah menyampaikan rasa terima kasihnya atas perhatian dan bantuan yang diberikan.
“Terima kasih banyak ya Pak Jum sudah membantu kami. Semoga rezekinya ditambah dan makin sukses,” ucapnya lirih penuh syukur.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik hiruk-pikuk kota, masih ada warga yang luput dari sentuhan kebijakan. Negara dan masyarakat diuji: apakah kemanusiaan benar-benar hadir untuk mereka yang paling membutuhkan.
Kontributor : Mauludin
Redaksi
