Ramalan Purbaya, Airlangga & Bos BI Soal Ekonomi RI 2026
Pemerintah dan otoritas moneter optimistis ekonomi Indonesia pada 2026 akan tumbuh lebih tinggi dari target sebelumnya. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo sama-sama menilai prospek pertumbuhan berada di atas 5% dengan dukungan konsumsi, investasi, dan kebijakan fiskal-moneter yang sinkron.
Jakarta – Pemerintah bersama otoritas moneter memandang prospek ekonomi Indonesia pada 2026 akan cerah. Pertumbuhan diyakini mampu melampaui target 2025 sebesar 5,2% dengan dukungan konsumsi masyarakat, investasi, serta kebijakan fiskal dan moneter yang lebih sinkron.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut tanda-tanda positif sudah terlihat sejak akhir 2025. Konsumsi masyarakat terjaga, tercermin dari Mandiri Spending Index (MSI) November 2025 sebesar 312,8, naik dari Oktober 297,4. Realisasi investasi juga meningkat, mencapai Rp 1.434 triliun per September 2025, dan belanja negara hingga November mencapai Rp 1.109 triliun.
“Indikator risiko pertumbuhan 2026 sudah terserap tahun ini. Outlook 2026 lebih optimistis, dan kita berharap pertumbuhan di atas 5,4%,” kata Airlangga dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025, Jumat (2/1/2026).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahkan lebih percaya diri. Ia menilai pertumbuhan 6% pada 2026 tidak sulit dicapai, setelah satu dekade ekonomi bergerak di kisaran 5%. Pemerintah akan mempercepat belanja anggaran di awal tahun, memperkuat sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter, serta mengintensifkan sidang debottlenecking untuk mengurai hambatan usaha.
“Sudah banyak investor asing melirik kebijakan debottlenecking ini. Jika dijalankan konsisten, iklim investasi akan semakin baik,” ujar Purbaya dalam media briefing di Kantor Kemenkeu, Rabu (31/12/2025).
Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 berada di kisaran 4,9–5,7%, dan 2027 mencapai 5,1–5,9%. BI menyiapkan kebijakan makroprudensial longgar agar kredit tumbuh 8–12% pada 2026 dan naik menjadi 9–13% pada 2027.
BI juga menurunkan suku bunga acuan sebesar 150 basis poin sejak awal 2025 untuk mendorong penurunan bunga kredit perbankan. Selain itu, BI mengoptimalkan sistem pembayaran digital sesuai Blueprint 2030, termasuk eksperimen penerbitan digital rupiah sebagai alat bayar sah.
“Dengan sinergi yang baik, ekonomi RI pada 2026 dan 2027 lebih baik,” ungkap Perry Warjiyo dalam PTBI 2025.
- Target pertumbuhan 2026: Pemerintah 5,4%+, Purbaya 6%, BI 4,9–5,7%.
- Indikator positif: MSI 312,8 (Nov 2025), investasi Rp 1.434 triliun, belanja negara Rp 1.109 triliun.
- Kebijakan utama: percepatan belanja anggaran, sinkronisasi fiskal-moneter, debottlenecking usaha, penurunan suku bunga, dorongan kredit, digital rupiah.
